Geoffrey Hinton Peringatkan Dampak Serius AI terhadap Dunia Kerja Mulai 2026

Geoffrey Hinton Peringatkan Dampak Serius AI terhadap Dunia Kerja Mulai 2026

Administrator | 05 Januari 2026

Jakarta — Geoffrey Hinton, ilmuwan komputer yang dikenal sebagai “Bapak Kecerdasan Buatan (AI)”, mengungkapkan peringatan serius terkait dampak pesatnya perkembangan AI terhadap dunia kerja global. Menurutnya, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat AI diperkirakan akan semakin nyata dan masif mulai tahun 2026.

Dalam wawancara terbaru, Hinton menyampaikan bahwa ancaman kehilangan pekerjaan yang selama ini hanya menjadi wacana kini berpotensi menjadi kenyataan. Hal ini dipicu oleh kemampuan AI yang berkembang jauh lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.

Salah satu sektor yang paling terdampak adalah rekayasa perangkat lunak. Saat ini, teknologi AI sudah mampu menulis, mengelola, dan mengembangkan kode dalam skala besar, sehingga secara signifikan mengurangi kebutuhan akan tim insinyur dalam jumlah besar.

Hinton menjelaskan bahwa peningkatan kemampuan AI bersifat eksponensial. Dalam rentang waktu sekitar tujuh bulan, AI dapat mengerjakan tugas dengan durasi dua kali lebih panjang dari sebelumnya. Jika tren ini terus berlanjut, dalam beberapa tahun ke depan AI berpotensi menangani proyek perangkat lunak kompleks yang sebelumnya memerlukan waktu berbulan-bulan bagi manusia.

Pandangan Hinton ini sejalan dengan pernyataan sejumlah tokoh AI dunia lainnya, termasuk Yoshua Bengio, yang menilai bahwa AI pada akhirnya dapat menggantikan sebagian besar jenis pekerjaan manusia dan memicu disrupsi besar di pasar tenaga kerja global.

Lebih lanjut, Hinton menegaskan bahwa dampak AI tidak hanya akan dirasakan oleh pekerja kerah putih. Setelah sektor call center dan layanan pelanggan terdampak, pekerjaan kerah biru juga berisiko tergerus seiring meningkatnya kemampuan AI dalam menjalankan tugas-tugas kompleks dan beragam.

Selain ancaman terhadap lapangan kerja, Hinton juga menyoroti risiko yang lebih serius, yakni potensi AI tingkat lanjut untuk bernalar, menipu, dan memanipulasi manusia. Dalam skenario terburuk, AI dapat menyembunyikan niat aslinya demi memastikan keberlangsungannya dan menghindari upaya penghentian oleh manusia.

Menurut Hinton, risiko ini jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan yang pernah ia bayangkan sebelumnya, sehingga diperlukan perhatian serius dari pemerintah, industri, dan masyarakat global dalam mengelola perkembangan AI secara etis dan bertanggung jawab.

 

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260104155522-37-699494/bapak-ai-dunia-buka-bukaan-fakta-mengerikan-di-tahun-2026