Waket III STIAB Smaratungga Hadiri Wisuda dan Dies Natalis STAB Mahā Prajñā Jakarta
- 03 September 2025
Jakarta - Wakil Ketua III STIAB Smaratungga, Yang Mulia Ditthisampanno Mahathera atau Budi Utomo, Ph.D., turut serta dalam Diskusi Kelompok Terpumpun Pemasangan Chattra Candi Borobudur yang diselenggarakan di Graha Utama Kementerian Kebudayaan pada Rabu (3/12/2025).
Diskusi ini dihadiri oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, serta berbagai pemangku kepentingan terkait rencana pemasangan chattra di stupa induk Candi Borobudur.
Dalam forum tersebut, Supriyadi menyampaikan bahwa terkait rencana pemasangan chattra di stupa induk Candi Borobudur sudah dilakukan berbagai langkah yang cukup panjang. Keputusan untuk menunda pemasangan chattra merupakan bagian dari proses kehati-hatian, agar setiap tahapan dapat dipastikan tepat secara regulasi, teknis, maupun nilai-nilai keagamaan dan pelestarian cagar budaya.
Supriyadi juga menjelaskan bahwa hingga saat ini pihaknya telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, terlebih-lebih dengan perubahan Kementerian dan Lembaga yang akan terlibat dalam proses rencana pemasangan chattra ke depan.
Melalui pertemuan dan diskusi ini, diharapkan lahir pemahaman bersama dan pencerahan, sehingga harapan umat Buddha dapat terwujud dengan baik, tertata, dan sesuai ketentuan.
Pentingnya Chattra bagi Fungsi Spiritual
Menurut Dirjen Bimas Buddha, ketiadaan chattra pada stupa induk dapat dianalogikan seperti raja tanpa mahkota. Oleh karenanya, pemasangan kembali chattra dianggap penting untuk menyempurnakan fungsi spiritual Candi Borobudur sebagai pusat peribadatan dan ziarah dunia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon merespons positif digelarnya focus group discussion antarinstansi yang membahas rencana pemasangan chattra di Candi Borobudur. Dia berharap, diskusi yang digelar saat ini bisa lebih mengerucut dan kuat karena pemerintah sejak 2024 sudah memiliki institusi yang khusus mengurusi soal kebudayaan, yakni Kementerian Kebudayaan.
Fadli Zon mengungkapkan bahwa ketika mendampingi kunjungan Presiden Prancis Macron di Borobudur akhir Mei 2025 lalu, Presiden Prabowo Subianto juga menanyakan soal perkembangan rencana pemasangan chattra. Pemerintah sangat mendengarkan aspirasi umat Buddha melalui Ditjen Bimas Buddha yang secara pemerintahan mewakili umat Buddha di Indonesia.
Fadli Zon mengaku baru-baru ini sudah melihat langsung kondisi chattra di kompleks Candi Borobudur. Dari kunjungannya diketahui masih ada material-material batu pembentuk chattra. Sebagian besar batu yang diperlukan masih ada, dan beberapa chattra juga pernah dipasang kembali pada era 1940-an pada masa pendudukan Jepang oleh para ahli saat itu.
Pendekatan Multidisipliner
Fadli Zon menjelaskan bahwa rencana pemasangan chattra harus mengacu pada pakem atau pedoman yang jelas, termasuk siapa yang berwenang menetapkannya, khususnya terkait aspek chattra itu sendiri. Dalam proses pembangunan dan pemasangan chattra, aspek substansi serta otoritas penentu pakem tersebut perlu dihormati dan dijadikan acuan utama.
Fadli Zon mendorong agar dalam rencana pemasangan chattra nanti harus menggunakan pendekatan multidisipliner. Dengan demikian komitmen pelestarian tidak kaku yang hanya mengandalkan satu metode. Untuk mendapatkan masukan yang tepat menuju konsep living heritage bagi umat Buddha, Ditjen Bimas Buddha telah banyak berdiskusi dengan Kementerian Kebudayaan beberapa bulan lalu.
Jika material asli tidak cukup, bisa dibuat batu baru yang menyerupai aslinya. Pendekatan seperti ini sudah dilakukan sejak masa kolonial, bahkan setelah kemerdekaan.
Diskusi terpumpun ini diikuti oleh jajaran Kementerian Kebudayaan, perwakilan dari Kemenko Bidang Perekonomian, Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, Badan Riset dan Inovasi Nasional, lembaga terkait, juga elemen umat Buddha yakni utusan WALUBI, perwakilan PERMABUDHI, perwakilan Sangha Agung Indonesia, serta perwakilan Gubernur Jawa Tengah dan Wakil Bupati Magelang yang tergabung dalam forum secara daring.
Kehadiran Y.M. Ditthisampanno Mahathera (Budi Utomo, Ph.D.) sebagai Wakil Ketua III STIAB Smaratungga dalam diskusi ini menunjukkan komitmen institusi pendidikan tinggi Buddha untuk turut serta dalam memperjuangkan aspirasi umat Buddha terkait kelengkapan spiritual Candi Borobudur sebagai warisan budaya dan keagamaan yang berharga.
Tim Redaksi STIAB Smaratungga