PTKB Pertama dengan Jurnal Terindeks SINTA 2
- 17 Maret 2026
Jakarta, 21 Agustus 2026 — STIAB Smaratungga turut berkontribusi dalam penguatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) melalui keterlibatan YM. Nyanasuryanadi Mahathera (Dr. Partono Nyanasuryanadi, M.Pd., M.Pd.B.), Kaprodi Magister Pendidikan Keagamaan Buddha STIAB Smaratungga, dalam kegiatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya 2026 bagi delegasi Kamboja, Laos, dan Vietnam.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Mercure Cikini, Jakarta Pusat, pada Jumat, 21 Agustus 2026 tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman mengenai bagaimana keberagaman agama dan budaya dapat dikelola melalui dialog, pendidikan, toleransi, dan kerja sama lintas masyarakat. Program ini melibatkan delegasi dari sejumlah negara ASEAN untuk mempelajari pengalaman Indonesia dalam merawat keberagaman.
Dalam konferensi pers kegiatan tersebut, YM. Nyanasuryanadi Mahathera menekankan pentingnya pengembangan kompetensi lintas agama sebagai dasar untuk membangun dialog yang sehat di tengah masyarakat yang memiliki beragam keyakinan. Menurut beliau, pemahaman terhadap berbagai perspektif agama dapat membantu para pendidik melihat perbedaan secara lebih luas dan terbuka.
Tiga kompetensi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan masyarakat untuk berinteraksi secara sehat di tengah perbedaan. Sikap terbuka terhadap keberagaman diperlukan agar perbedaan keyakinan tidak menjadi sumber jarak, melainkan menjadi ruang untuk membangun komunikasi dan kerja sama.
YM. Nyanasuryanadi Mahathera juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi dan media digital dalam memperkuat pesan kemanusiaan. Di tengah derasnya arus informasi dan munculnya berbagai konten yang berpotensi menyebarkan kebencian, media digital dan teknologi kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan konten yang edukatif, menarik, interaktif, serta membawa pesan perdamaian kepada generasi muda.
Keterlibatan STIAB Smaratungga dalam forum LKLB ini sekaligus menunjukkan peran perguruan tinggi keagamaan Buddha dalam memperkuat pendidikan yang berorientasi pada dialog dan kehidupan bersama. Pendidikan keagamaan tidak hanya diarahkan pada pemahaman ajaran secara internal, tetapi juga membekali mahasiswa dan pendidik dengan kemampuan untuk memahami keberagaman serta membangun hubungan yang harmonis dengan kelompok lain.
Peneliti ASEAN, Yuyun Wahyuningrum, dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa LKLB membutuhkan kerja bersama yang konsisten, berkelanjutan, dan terus diperluas. Menurutnya, setiap negara ASEAN memiliki konteks keberagaman yang berbeda sehingga pendekatan dialog perlu disesuaikan dengan kondisi sosial dan kebutuhan masing-masing masyarakat.
Ketertarikan negara-negara ASEAN terhadap LKLB juga menunjukkan adanya kebutuhan bersama untuk belajar mengenai toleransi, dialog, dan pengelolaan keberagaman. Perbedaan latar belakang agama dan budaya di kawasan ASEAN menjadi peluang untuk saling bertukar pengalaman dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai dan inklusif.
Pendekatan LKLB juga memiliki relevansi dengan agenda regional ASEAN yang menempatkan perdamaian, toleransi, dan kohesi sosial sebagai bagian penting dalam pembangunan kawasan. Karena itu, penguatan literasi keagamaan lintas budaya tidak hanya menjadi kebutuhan pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat ASEAN yang lebih harmonis.
Sementara itu, Penasehat Institut Leimena, Alwi Shihab, menekankan pentingnya pemahaman yang baik terhadap prinsip agama masing-masing sebelum membangun komunikasi dengan kelompok yang berbeda. Pemahaman keagamaan yang mendalam dinilai dapat menjadi landasan bagi seseorang untuk bersikap toleran sekaligus tetap menghormati batas-batas keyakinannya.
Keterlibatan YM. Nyanasuryanadi Mahathera dalam kegiatan LKLB 2026 memperkuat komitmen STIAB Smaratungga dalam mengembangkan pendidikan Buddhis yang terbuka, kontekstual, dan relevan dengan tantangan kehidupan masyarakat modern. Melalui pendidikan, dialog lintas agama, dan pemanfaatan teknologi secara bijaksana, nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan perdamaian diharapkan semakin kuat, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di kawasan ASEAN.
Partisipasi ini menjadi bagian dari upaya STIAB Smaratungga untuk terus menghadirkan kontribusi akademik dan keagamaan dalam membangun kehidupan masyarakat yang menghargai keberagaman, memperkuat persaudaraan, serta menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk mewujudkan perdamaian.