Hari Metta 1 Januari: Awal Tahun dengan Cinta Kasih Universal

Hari Metta 1 Januari: Awal Tahun dengan Cinta Kasih Universal

Administrator | 02 Januari 2026

Boyolali — Setiap tanggal 1 Januari, umat Buddha di Indonesia memperingati Hari Metta, sebuah momentum spiritual untuk menumbuhkan dan mempraktikkan cinta kasih universal (mettā) sebagai landasan kehidupan pribadi dan sosial. Peringatan ini menjadi ajakan untuk mengawali tahun baru dengan batin yang damai, bebas dari kebencian, dan penuh niat baik terhadap semua makhluk.

Konsep mettā memiliki dasar kuat dalam ajaran Buddha yang tertuang dalam Tripiṭaka, khususnya dalam Khuddaka Nikāya. Salah satu rujukan utama adalah Karaniya Metta Sutta, yang menegaskan bahwa cinta kasih bukan sekadar sikap batin, melainkan praktik aktif yang diwujudkan dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan.

Dalam sutta tersebut, Sang Buddha menyatakan:

“Mātā yathā niyaṁ puttaṁ āyusā eka-puttam anurakkhe,
evampi sabba-bhūtesu māna-saṁ bhāvaye aparimāṇaṁ.”

“Bagaikan seorang ibu melindungi anak tunggalnya dengan mempertaruhkan nyawanya, demikian pula hendaknya seseorang mengembangkan cinta kasih yang tak terbatas kepada semua makhluk.”
(Sn. 149–150)

Ajaran ini menegaskan bahwa mettā bersifat tanpa batas (aparimāṇa) dan tidak dibatasi oleh perbedaan suku, agama, bangsa, maupun pandangan. Oleh karena itu, Hari Metta dipandang relevan tidak hanya bagi umat Buddha, tetapi juga sebagai nilai universal dalam membangun perdamaian sosial.

Lebih lanjut, Buddha juga menekankan bahwa pengembangan mettā membawa manfaat langsung bagi batin dan kehidupan seseorang. Dalam Aṅguttara Nikāya, disebutkan bahwa orang yang mengembangkan cinta kasih akan hidup dengan damai dan terlindungi dari berbagai penderitaan batin:

“Mettā-cetovimuttiṁ bhāveti… sukhaṁ supati, sukhaṁ paṭibujjhati.”

“Ia mengembangkan pembebasan batin melalui cinta kasih… tidur dengan bahagia dan bangun dengan bahagia.”
(A.V. 342)

Peringatan Hari Metta di berbagai vihara umumnya diisi dengan meditasi mettā bhāvanā, pembacaan paritta, ceramah Dhamma, serta kegiatan sosial sebagai wujud nyata cinta kasih. Tidak sedikit pula umat yang menjadikan Hari Metta sebagai saat refleksi untuk memperbaiki relasi, memaafkan kesalahan, dan menumbuhkan keharmonisan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Dalam konteks kehidupan modern yang sarat konflik dan tekanan, pesan Hari Metta menjadi semakin relevan. Buddha mengingatkan bahwa kebencian tidak akan pernah berakhir dengan kebencian, melainkan hanya dapat dipadamkan dengan cinta kasih:

“Na hi verena verāni, sammantīdha kudācanaṁ;
averena ca sammanti, esa dhammo sanantano.”

“Sesungguhnya kebencian tidak akan berakhir bila dibalas dengan kebencian; kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tanpa kebencian. Inilah hukum yang kekal.”
(Dhp. 2)

Dengan demikian, Hari Metta bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan panggilan untuk menghidupkan kembali ajaran luhur Buddha dalam realitas sehari-hari. Mengawali tahun dengan mettā berarti menanam benih perdamaian—dari batin individu menuju keharmonisan dunia.