Gemini Kini Terintegrasi dengan Canva, Permudah Pembuatan Desain Berbasis AI
- 23 Juli 2026
Semarang, 25 Agustus 2026 — Peringatan Hari Raya Asadha 2570 BE sekaligus launching karya seni Tanbo Art Pari Corek Sang Buddha digelar di Coffee Shop Lodji Londo, Bergas, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini dihadiri oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Buddha Kementerian Agama RI, Supriyadi, Bupati Kabupaten Semarang, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Semarang, tokoh agama, tokoh masyarakat, para seniman, serta lebih dari 500 tamu undangan.
Peringatan Hari Raya Asadha menjadi momentum bagi umat Buddha untuk mengenang peristiwa ketika Sang Buddha membabarkan Dhamma untuk pertama kalinya kepada lima orang pertapa di Taman Rusa Isipatana. Peristiwa tersebut menjadi tonggak awal berputarnya Roda Dhamma atau Dhammacakka.
Salah satu rangkaian yang menarik perhatian dalam kegiatan tersebut adalah launching Pari Corek Sang Buddha, sebuah karya seni Tanbo Art yang memanfaatkan hamparan persawahan sebagai media untuk menghasilkan karya visual. Karya bergambar Sang Buddha tersebut berada di area persawahan Dusun Sidorejo, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, dan mulai dikerjakan sejak 19 Juli 2026 oleh para seniman Tanbo Art Pari Corek Nusantara.
Foto : antaranews.com
Dengan menjadikan sawah sebagai kanvas alami, para seniman menyusun pola tanaman padi sedemikian rupa sehingga membentuk gambaran Sang Buddha yang dapat dinikmati dari sudut pandang tertentu. Karya ini tidak hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga menyampaikan pesan mengenai keterhubungan antara manusia, alam, budaya, dan spiritualitas.
Dalam kegiatan tersebut, YM. Nyanasuryanadi Mahathera (Dr. Partono, M.Pd., M.Pd.B.), Kaprodi Magister Pendidikan Keagamaan Buddha STIAB Smaratungga, turut mengisi Ceramah Dhamma. Beliau menyampaikan bahwa perayaan Asadha kali ini memperlihatkan sinergi kebersamaan sekaligus semangat hidup berdampingan dengan alam. Pesan tersebut sejalan dengan hadirnya karya Pari Corek yang memadukan nilai keagamaan, kreativitas seni, budaya, dan lingkungan.
Supriyadi mengapresiasi kreativitas para seniman yang mampu menggabungkan seni, budaya, lingkungan, dan nilai-nilai keagamaan dalam sebuah karya yang dapat dinikmati masyarakat luas. Menurutnya, sawah tidak hanya dapat dimaknai sebagai tempat menghasilkan pangan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menghasilkan karya seni dan berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
Foto : Tim IT Smaratungga
Kehadiran Pari Corek Sang Buddha diharapkan menjadi daya tarik baru bagi masyarakat Kabupaten Semarang dan sekitarnya sekaligus membuka ruang interaksi antara umat Buddha dengan masyarakat luas melalui seni dan budaya. Karya tersebut juga menjadi contoh bahwa nilai-nilai keagamaan dapat diwujudkan melalui kreativitas yang membangun dan memberikan pesan kedamaian serta keharmonisan.
Dengan demikian, Peringatan Asadha 2570 BE dan launching Tanbo Art Pari Corek Sang Buddha menjadi momentum yang memperlihatkan bahwa Dhamma dapat hadir melalui berbagai bentuk kreativitas, termasuk seni, budaya, dan kepedulian terhadap alam. Perpaduan tersebut diharapkan mampu menebarkan pesan kedamaian, kebersamaan, keindahan, dan harmoni kepada masyarakat luas.